BERTEMU seorang gadis indah
Di lapangan upacara bendera
Entah dia dari daerah mana
Kuikuti dia yang indah ke arah kempi
Daun-daun berguguran di sepanjang jalan
Mengingatkan ku pada kampung halaman
Di depan kempi, aku dihalangi kakak pembina
“Kamu salah jalan?” tanya kakak pembina memicingkan mata
Esoknya kucari lagi, si gadis indah
Kali ini bersua di gerbang utama
Aku lupa entah untuk apa
Dia membawa buku notes kecil
Dan memintaku mengisi biodata
Hanya itu, dan hatiku berbunga-bunga
Perkemahan akbar itu usai
Sampai kini aku tak pernah
mendengar kabarnya lagi
Tak sepucuk surat pun kuterima
Darinya,
Yang entah dari mana
***
Puisi ini dikirimkan diam-diam oleh seorang Purna Jamnas ’91 yang tak mau seluruh dunia tahu dia masih menunggu si gadis indah.